Part 1 Suku Serawai dan Peradabannya

Peradaban yang dilupakan Sejarah

"Suku Serawai"

 ( Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/V4mRGvx9Y9NwfaNY7 )

Siapa Suku Serawai ? 

Suku Serawai adalah salah satu suku asli yang mendiami bagian selatan Provinsi Bengkulu, terutama di wilayah:

  • Kabupaten Seluma

  • Kabupaten Bengkulu Selatan 

  • Sebagian Kabupaten Kaur

Mereka dikenal sebagai masyarakat yang kuat memegang adat, hidup di daerah pesisir dan dataran rendah, dan sejak dulu sudah hidup dari:

  • Bertani (khususnya ladang dan padi sawah)

  • Melaut dan berdagang

  • Berinteraksi dengan pendatang dari laut (baik dari dalam maupun luar Nusantara)

 Suku Serawai dan Kerjaan Serut

 Banyak versi tentang asal mula Suku Serawai—ada yang bilang dari percampuran etnis lokal dengan pengaruh Minangkabau, ada juga yang menelusuri akar mereka dari kerajaan-kerajaan kecil di pesisir Bengkulu Selatan. Awalnya, ada pemahaman umum atau anggapan yang berkembang bahwa Suku Serawai punya hubungan dekat atau bahkan merupakan cabang dari Suku Minangkabau, karena secara geografis Provinsi Bengkulu cukup dekat dengan Sumatera Barat, dan ada catatan sejarah yang menyebut pernikahan antara Putri Gading Cempaka (Putri kerajaan Serut, Bengkulu) dengan pangeran dari Kerajaan Pagaruyung (Sumatera Barat). Hubungan ini kemudian dianggap sebagai bukti bahwa budaya Minangkabau punya pengaruh kuat di Bengkulu, namun apakah suku serawai itu dari suku minangkabau seperti pemahaman yang ada atau lebih dari itu ?

na coba kita Analisa : 

Sekitar abad ke-16, ada seorang bangsawan dari Banten yang datang merantau ke wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Bengkulu. Namanya Ratu Agung. Meskipun gelarnya “Ratu” yang biasanya identik perempuan, beliau ini pria. Ratu Agung datang bukan cuma buat jalan-jalan, tapi bawa misi penting: ngatur perdagangan lada yang waktu itu jadi komoditas mahal dan dicari di banyak wilayah.

Nah, daerah Sungai Serut, tempat Kerajaan Serut berdiri, saat itu masih kaya hutan, sungai, dan dihuni suku-suku asli seperti Rejang dan Serawai. Ratu Agung berhasil membangun kerajaan kecil di sana, dan dia pun dihormati oleh masyarakat lokal. Bisa dibilang, beliau itu kayak “pemimpin yang diterima” karena bisa ngatur urusan dagang dan juga bergaul baik dengan warga.

Kerajaan Aceh (yang waktu itu lagi kuat-kuatnya) pengin menjalin hubungan lewat pernikahan dengan Kerajaan Serut. Mereka melamar Putri Gading Cempaka, tapi lamaran itu ditolak. Penolakan ini bikin Aceh marah besar, karena dianggap itu penghinaan.

Akibatnya, Aceh kirim pasukan buat menyerang Kerajaan Serut. Perang besar pun terjadi dan akhirnya Kerajaan Serut runtuh. Banyak orang dan keluarga kerajaan kabur, terutama ke daerah pegunungan Gunung Bungkuk.

Di Gunung Bungkuk, Putri Gading Cempaka bertemu dan menikah dengan seorang bangsawan dari Kerajaan Pagaruyung (Sumatera Barat) bernama Maharaja Sakti. Dari pernikahan ini, lahir kerajaan baru yang disebut Kerajaan Sungai Lemau.

Kerajaan ini dianggap sebagai penerus Kerajaan Serut, tapi dengan aliansi dan kekuatan baru.

Kerajaan Serut runtuh dan Kerajaan Sungai Lemau berdiri, posisi politik dan sosial di Bengkulu berubah. Kerajaan baru ini langsung di bawah kepemimpinan Putri Gading Cempaka dan suaminya dari Pagaruyung, yang artinya:

  • Jaringan kekuasaan baru otomatis membawa nilai-nilai dan budaya baru yang datang dari Sumatera Barat.

  • Banten tetap jadi asal-usul darah dan pengaruh agama Islam, tapi budaya dan sistem pemerintahan yang nyata di lapangan banyak dipengaruhi oleh gaya dan adat Minangkabau.

  • Pengaruh Banten lebih terlihat di agama Islam dan tradisi keluarga, sementara pengaruh Pagaruyung lebih terasa di struktur sosial dan budaya pemerintahan.

      

    Kenapa Banten ? 

    Apa hubungan Bengkulu dan Banten ?

    Next kita Bahas, ok Lanjut

    dari sini kita tahu bahwa Pengaruh minangkabu masuk ke Bengkulu Melalui Kerjaan Lemau namun apakah suku serawai adalah Cabang dari suku Minangkabau ?

    mari kita ulik : 

    kalau kita baca alurnya secara kronologis maka Suku Serawai tidak bisa dikatakan berasal dari hasil percampuran dengan Minangkabau. Yang sering terjadi itu justru kebalikannya—ada pengaruh Minangkabau yang datang belakangan, terutama melalui aliansi politik dan pernikahan setelah Kerajaan Lemau berdiri.

Menurut cerita-cerita lisan dan adat lokal, suku ini menghuni wilayah Bengkulu Selatan jauh sebelum kedatangan Ratu Agung dan pendirian Kerajaan Sungai Serut.Bahkan, struktur sosial seperti marga, adat pernikahan, dan sistem gotong royong (rejang, begawi, dll.) sudah dikenal lebih dulu, Ratu Agung datang membawa pengaruh Ke Daerah Bengkulu Tapi beliau tidak “membentuk” suku baru. Justru, Ratu Agung berbaur dan menjalin aliansi dengan suku-suku yang sudah ada, salah satunya ya Suku Serawai ini, artinya Suku Serawai Ada Penduduk Asli yang berperan dalam menopang awal kerajaan ini.

 Pernikahan Putri Gading Cempaka & Pangeran Pagaruyung Ini terjadi setelah konflik besar (seperti serangan Aceh) dan keruntuhan Kerajaan Serut, Hubungan ini memang membawa pengaruh baru (adat Minang), tapi sifatnya tambahan/adaptif, bukan penciptaan suku.

lalu bagaimana dengan pengaruh majapahit ? dan apa hubungannya dengan suku serawai kita bahas di part selanjutnya.

 

 

 

" Mohon Maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan penyebutan nama atau gelar, tulisan ini semata mata dibuat untuk Pemahaman lebih dalam tentang sejarah dan tidak ada tujuan lain" 

                                                                                                         

                                                                                                        { Penulis } 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Part 2 Suku Serawai dan Peradabannya

Sejarah Holocaust