Part 2 Suku Serawai dan Peradabannya
Majapahit dan suku serawai
Sumber gambar ( https://images.app.goo.gl/sELrxBTwou5331mx9 )
Di pesisir selatan Sumatra, khususnya di daerah yang sekarang dikenal sebagai Bengkulu, terdapat sebuah kelompok masyarakat yang sejarahnya sangat unik dan penuh lapisan pengaruh budaya. Suku Serawai—salah satu suku yang dikenal dengan bahasa dan adat istiadat khas mereka—memiliki akar yang bisa ditarik kembali ke masa sebelum Kesultanan Banten hadir di tanah Bengkulu. Namun, perjalanan panjang budaya mereka dimulai jauh sebelum itu, pada masa ketika Majapahit, kerajaan besar yang menguasai sebagian besar Nusantara, masih berdiri kokoh.
Pengaruh Majapahit dan Masa Peralihan.
Pada abad ke-13 hingga 15, Majapahit mendominasi sebagian besar Nusantara, termasuk Sumatra bagian selatan. Meski pusat kekuasaannya berada di Jawa Timur, Majapahit memiliki pengaruh kuat di pesisir Sumatra, termasuk Bengkulu, yang kala itu merupakan wilayah dengan jalur pelayaran dan perdagangan yang strategis. Pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Sumatra menjadi titik temu bagi para pedagang dari berbagai penjuru Nusantara, dan Majapahit sebagai kerajaan maritim yang besar, memastikan pengaruhnya menyentuh hampir seluruh wilayah pesisir tersebut.
na hal ini senada dengan yang tertulis dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca Di dalam Negarakertagama, ada bagian yang menjelaskan tentang wilayah-wilayah di Nusantara yang masuk dalam pengaruh atau kekuasaan Majapahit, Pahang, Tumasik, Langkasuka, Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, Barus meskipun tidak disebut secara eksplisit “Bengkulu” atau “Serawai”, tapi dari konteks wilayah yang disebut, pengaruh Majapahit sampai ke daerah Sumatra bagian selatan itu sangat mungkin terjadi baik lewat perdagangan, politik, atau misi budaya.
Saat itu, komunitas-komunitas di selatan Bengkulu, yang kelak akan dikenal sebagai suku Serawai, masih dalam bentuk kelompok-kelompok masyarakat kecil tanpa struktur suku yang kuat. Mereka hidup dalam ikatan kekerabatan yang longgar, dan meskipun mereka merupakan masyarakat lokal, pengaruh budaya Hindu-Buddha yang dibawa oleh Majapahit mulai menyentuh kehidupan mereka, baik melalui perdagangan, sistem pemerintahan, maupun struktur sosial yang mulai terbentuk.
Pada masa ini, masyarakat lokal mulai mengenal istilah-istilah kerajaan, sistem penghulu, dan struktur hierarki sosial yang mirip dengan sistem yang diterapkan oleh Majapahit. Ini adalah periode yang bisa disebut sebagai masa peralihan, di mana pengaruh luar mulai menanamkan benih-benih budaya yang kelak akan berkembang menjadi bagian dari identitas mereka. Namun, meski pengaruh Majapahit begitu besar, mereka belum mengidentifikasi diri sebagai "suku" dalam pengertian yang lebih struktural dan formal.
Setelah runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15, pengaruh besar kerajaan ini tidak langsung hilang begitu saja. Sebaliknya, banyak tradisi, nilai-nilai budaya, dan struktur sosial yang ditinggalkan oleh Majapahit tetap bertahan di berbagai wilayah, termasuk di pesisir Bengkulu. Pada periode ini, masyarakat lokal yang sebelumnya terpapar pengaruh Majapahit mulai mengembangkan identitas mereka.
Pada masa transisi ini (sekitar awal abad ke-16), kelompok-kelompok masyarakat yang kelak akan dikenal sebagai suku Serawai mulai memperkuat tradisi lokal mereka yang telah bercampur dengan elemen-elemen budaya Majapahit. Meskipun mereka masih hidup dalam sistem sosial yang lebih sederhana dan belum memiliki struktur yang kaku, lapisan-lapisan budaya yang ditinggalkan oleh Majapahit mulai terlihat jelas dalam kehidupan mereka, seperti dalam bahasa, adat istiadat, dan pola hidup mereka.
Periode ini adalah fase pembentukan, di mana masyarakat lokal mulai menyerap dan mengintegrasikan pengaruh Majapahit ke dalam kehidupan mereka. Nama-nama tempat, elemen-elemen budaya seperti seni ukir, serta tradisi perdagangan yang berkembang di sepanjang pesisir selatan Sumatra kemungkinan besar dipengaruhi oleh sistem yang diperkenalkan oleh Majapahit.
Masuknya Pengaruh Kesultanan Banten Islam
Pada awal abad ke-16, Kesultanan Banten, yang merupakan salah satu kekuatan Islam terbesar di pesisir barat Jawa, mulai mengembangkan pengaruhnya ke Sumatra bagian selatan. Melalui pernikahan politik dan ekspansi kekuasaannya, Ratu Agung dari Kesultanan Banten, mendirikan Kerajaan Serut di wilayah Bengkulu pada sekitar tahun 1600-an. Dengan kedatangan Kesultanan Banten, unsur-unsur Islam dan sistem pemerintahan Islam mulai masuk dan memengaruhi struktur sosial di wilayah tersebut.
Pernikahan antara Putri Gading Cempaka, putri Kerajaan Serut, dan Pangeran Pagaruyung dari kerajaan Minangkabau, menjadi titik balik penting yang menggabungkan pengaruh Islam, tradisi lokal, dan adat Minangkabau dalam budaya suku Serawai yang baru terbentuk.
Namun, sebelum pengaruh Kesultanan Banten dan Minangkabau ini datang, komunitas lokal di Bengkulu selatan, yang telah berkembang dengan pengaruh Majapahit yang kuat, sudah mulai membentuk identitas budaya mereka sendiri. Suku Serawai pada akhirnya menjadi hasil dari perpaduan antara pengaruh Majapahit, pengaruh Banten, dan pengaruh Minangkabau—suatu perjalanan panjang yang dimulai dengan pengaruh Majapahit yang sangat awal.
Dalam perjalanan sejarahnya, suku Serawai bukanlah hasil dari satu pengaruh budaya saja. Mereka merupakan produk dari perjalanan panjang yang melibatkan pengaruh Majapahit, perubahan pasca-runtuhnya Majapahit, dan masuknya Kesultanan Banten serta Minangkabau ke wilayah Bengkulu selatan. Pada masa antara runtuhnya Majapahit dan masuknya Kesultanan Banten, masyarakat lokal mulai menyerap dan mengembangkan ciri khas budaya mereka sendiri, yang kelak membentuk dasar bagi identitas suku Serawai yang kita kenal hari ini.
namun ada sesuatu yang harus diluruskan disini
keyakinan yang masih di pertahankan oleh suku serawai hingga hari ini adalah keyakinan terhadap roh nenek moyang itu adalah bentuk budaya spiritual lokal yang sangat tua, bahkan lebih tua dari pengaruh Islam dan Hindu-Buddha sekalipun. Sebelum Majapahit, sebelum Hindu-Buddha, bahkan sebelum Islam, masyarakat Nusantara pada umumnya sudah punya bentuk keyakinan yang disebut
- animisme:
Kepercayaan bahwa roh-roh leluhur dan alam punya kekuatan spiritual yang bisa memengaruhi kehidupan manusia.
Nah, masyarakat lokal di Bengkulu selatan yang jadi cikal bakal suku Serawai memiliki warisan kepercayaan ini. Maka, budaya menghormati roh nenek moyang itu adalah salah satu warisan asli yang bertahan ribuan tahun.
Waktu Majapahit masuk, memang ada pengaruh Hindu-Buddha — tapi tidak menghapus kepercayaan lokal sepenuhnya. Biasanya yang terjadi itu:
-
Sinkretisme → campuran keyakinan lokal dengan agama besar.
- Budaya menghormati roh nenek moyang adalah lapisan budaya paling tua
- Ia berasal dari era sebelum Majapahit, sebelum Hindu-Buddha, bahkan sebelum Islam
- Meski pengaruh Islam masuk dari Banten, budaya ini tidak hilang, tapi berbaur dan tetap hidup dalam bentuk ritual budaya
Dan ini jadi bukti bahwa identitas Serawai punya akar lokal yang sangat kuat, bukan semata-mata hasil dari asimilasi luar.
“Ritual roh nenek moyang di Suku Serawai bukan sekadar warisan budaya, tapi bukti bahwa masyarakat Serawai punya akar spiritual yang jauh lebih tua dari agama-agama besar yang datang belakangan. Ia adalah suara dari masa silam yang tetap hidup di tengah zaman modern.”
jadi artinya disini Suku Serawai adalah suku Asli dari Daerah Bengkulu Bagian Selatan namun Memiliki sejarah Tranformasi yang panjang dan akhirnya berbaur dengan zaman.
lalu Bagaimana pengaruh Kesultanan Banten, Apa saja yang Masih Melekat, dan Bagaimana Kerajaan serut dan Aceh bisa beraduh Konflik, kemudian lahir Kerajaan baru Kerjaan Sungai Limau dan bagaimana Pengaruh dari Minangkabau Masuk Kita bahas di Part Selanjutnya ya
" Mohon Maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan penyebutan nama atau gelar, tulisan ini semata mata dibuat untuk Pemahaman lebih dalam tentang sejarah dan tidak ada tujuan lain"
{ Penulis }

Komentar
Posting Komentar